Perencanaan & Pengendalian Manajerial

ANALISIS PENERAPAN METODE PENCATATAN DAN PENILAIAN TERHADAP BARANG ENURUT PSAK NO.14

Setiap perusahaan yang bergerak di bidang jasa, dagang maupun manufaktur sangat perlu untuk melakukan pencatatan akuntansi untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Selain itu perusahaan juga harus mencatat persediaan. Persediaan merupakan hal penting bagi perusahaan karena sebagian besar aktiva perusahaan terdapat dalam persediaan. Masalah yang sering timbul kerena adanya persediaan adalah pencatatan dan penilaian dari persediaan itu sendiri. Terkadang dalam penerapan metode pencatatan maupun penilaian persediaan belum dilakukan dengan baik oleh perusahaan karena beberapa faktor diantaranya kekuarangan informasi terhadap metode pencatatan persediaan terbaru, kurangnya pengetahuan dari pihak perusahaan untuk menereapkan metode yang layak, ataupun perusahaan sudah merasa cocok dengan metode yang digunakan selama ini sehingga merek takut jika nantinya mengganti dengan metode baru akan sulit untuk menyesuaikan dengan sistem yang telah diterapkan perusahaan selama ini.

Metode pencatatan dan penilaian persediaan yang diterapkan oleh perusahaan juga tidak semuanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dalam hal ini mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. Pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.14 dijelaskan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persediaan, diantaranya pengukuran persediaan, metode apa saja yang boleh digunakan dalam penilaian persediaan dan lain sebagainya. PT. Tirta Investama sendiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minuman, khususnya air mineral (AQUA). Aqua sendiri telah diketahui masyarakat luas sebagai salah satu produk air mineral di Indonesia sekaligus menjadi market leader dalam persaingan produk air mineral yang kian marak di Indonesia. Meskipun banyak bermunculan produk air mineral baru, sebagian besar masyarakat masih tetap setia dengan produk ini.

PT.Tirta Investama DC Manado membeli sebagian besar produk AQUA langsung dari pabrik PT.Tirta Investama Manado sehingga harganya tidak berbeda jauh dengan harga aslinya. Sedangkan untuk produk MIZONE dan AQUA 330ml dibeli dari pabrik PT.Tirta Investama yang berada di luar Manado sehingga harga jualnya cenderung sedikit lebih mahal, mengingat adanya biaya angkut terhadap produk tersebut. Untuk mencatat pembelian persediaan barang dagang secara tunai perusahaan mencatatnya dalam jurnal sebagai berikut:

Persediaan barang dagangan    Rp xxx

Kas                                                                 Rp xxx

Sedangkan untuk mencatat pembelian persediaan barang dagang secara kredit jurnalnya adalah:

Persediaan barang        Rp xxx

Utang dagang                          Rp xxx

Produk yang dijual di PT.Tirta Investama DC Manado mempunyai 2 sistem pembayaran yaitu secara tunai dan kredit. Ketika terjadi penjualan tunai dengan nilai di bawah Rp 1.000.000, maka pembayaran yang diterima akan dicatat dalam akun Kas Direksi/Penjualan. Jika jumlah pembayaran melebihi Rp1.000.000, maka harus ditransfer ke Bank Direksi/Penjualan. Begitu pula halnya dengan pembayaran secara kredit. Untuk pembayaran secara kredit, PT.Investama DC Manado mempunyai beberapa term of payments yaitu : 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 1 bulan dimulai saat invoice di cetak ataupun saat invoice diterima pelanggan.

Untuk penjualan secara tunai senilai = Rp 1.000.000 maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Kas Direksi                 Rp xxx

Penjualan                     Rp xxx

Sedangkan penjualan secara tunai senilai > Rp 1.000.000 maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Bank Direksi               Rp xxx

Penjualan                    Rp xxx

Jika terjadi penjualan secara kredit, maka perusahaan akan mencatat jurnal sebagai berikut:

Piutang usaha                           Rp xxx

Penjualan                    Rp xxx

Untuk biaya angkut yang digunakan pada PT.Tirta Investama DC Manado yaitu frangko gudang dan frangko pabrik untuk daerah pemasaran Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara (Ternate), Sulawesi Tengah (Palu dan Luwuk) dan Papua dengan masing-masing 1 distributor untuk daerah Manado, Gorontalo, Ternate, Palu dan Luwuk. Tetapi untuk produk yang akan di antar ke kantor-kantor, hanya dikenakan biaya bahan bakar minyak (BBM) tergantung jarak yang ditempuh untuk mencapai kantor tersebut. Dalam mencatat biaya angkut masuk dari produk AQUA maupun MIZONE yang telah dibeli, maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Persediaan barang dagangan                Rp xxx

Kas                                                       Rp xxx

Sedangkan untuk mencatat biaya angkut produk hingga sampai ke tangan konsumen, jurnal yang dicatat adalah sebagai berikut:

Biaya angkut keluar                Rp xxx

Kas                                          Rp xxx

Dalam melakukan penilaian terhadap persediaan barang PT. Tirta Investama DC Manado menggunakan asumsi metode FIFO (First In, First Out) atau yang dikenal juga dengan sebutan Masuk Pertama, Keluar Pertama (MPKP). Berdasarkan asumsi dari metode FIFO, perusahaan menamai metode penilaian persediaan mereka dengan sebutan FEFO (First Expired, First Out). FEFO mungkin terdengar mirip dengan FIFO, tapi dalam metode FEFO sistemnya lebih ketat daripada FIFO. Jika dalam metode FIFO barang yang masuk pertama juga akan keluar pertama pula, tanpa memperhatikan tanggal kadaluarsanya (expired date). Pada metode FEFO barang yang lebih dulu akan mencapai masa kadaluarsanya yang akan dijual terlebih dahulu. Barang yang akan mendekati waktu kadaluarsanya lebih dulu diletakkan dekat dengan pintu gudang sehingga lebih mudah untuk diangkut.

  1. Tirta Investama DC Manado menerapkan pengakuan sebagai beban pada saat terjadi penjualan barang secara kredit, yang dicatat dalam jurnal sebagai berikut:

Harga pokok penjualan                       Rp xxx

Persediaan barang dagangan                           Rp xxx

Metode pencatatan yang digunakan pada PT.Tirta Investama DC Manado adalah metode perpetual, sedangkan untuk metode penilaian persediaan menggunakan metode FEFO (First Expired, First Out) dan untuk teknik pengukuran biaya menggunakan metode eceran. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2012) dan Sambuaga (2013) pada objek penelitian masing-masing juga menggunakan metode perpetual untuk pencatatan persediaan. Tapi pada objek penelitian Hidayat melakukan penilaian persediaan dengan menggunakan metode eceran sedangkan pada objek penelitian yang Sambuaga dilakukan persediaan dengan menggunakan metode FIFO (First In, First Out). Pengungkan persediaan yang dilakukan oleh PT.Tirta Investama DC Manado telah sesuai dengan PSAK No.14 Revisi 2012. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Sambuaga (2013) tetapi pada penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2012) tidak ada pembahasan tentang pengungkapan persediaan sebagaimana yang dijelaskan pada PSAK No.14.

 

REFERENSI

Setijawan, Imam. 2011. Pengaruh Asset Tidak Berwujud terhadap Nilai Perusahaan. Vol.13 No.2. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Semarang.

Laili, Yanuarita Rohmatul. Pengaruh Penerapan Konvegensi IFRS terhadap Penilaian Aset dengan Menggunakan Konsep Fair Value. Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.

Anwar, Nurul Fitah,. Karamoy, Herman. 2014. Analisis Penerapan Metode Pencatatan dan Penilaian terhadap Persediaan Barang menurut PSAK No.14 pada PT Tirta Investama DC Manado. Vol.2 No.2 Juni, Hal. 1296-1305. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado, Manado.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s