Analisis Laporan Keuangan Internasional

ADOPSI INTERNATIONAL FINANCIAL REPORT STANDARD

Di era globalisasi yang pesat saat ini banyak ide yang bermunculan untuk melakukan perdagangan ke luar negeri, karena para pedagang merasa pasar dalam negeri tidak lagi menjanjikan keuntungan yang besar, sedangkan pasar luar negeri terbuka sangat lebar. Kecenderungan meningkatnya globalisasi di bidang ekonomi semakin tampak dengan adanya kesepakatan antar beberapa negara dalam region tertentu untuk bergabung dalam sebuah organisasi yang berorientasi ekonomi. Selain itu, globalisasi di bidang ekonomi juga tampak dengan munculnya fenomena krisis nilai tukar di sebagian negara Asia, termasuk Indonesia, yang dimulai pada tahun 1997.

Perkembangan selanjutnya di Indonesia juga menunjukkan fenomena yang menarik. Menguatnya rupiah terhadap mata uang asing, meskipun tidak kembali pada kurs nilai tukar sebelum terjadinya krisis, membuat para eksportir mulai mengeluh karena pendapatannya turun jika dinilai dalam mata uang domestik. Sebaliknya terjadi bagi para importir. Menguatnya mata uang domestik (Rupiah) dan melemahnya mata uang asing (dolar Amerika Serikat) membuat kewajiban importir membayar dalam mata uang asing menjadi lebih murah dinilai dari mata uang domestik. Hal ini pula lah yang akhirnya memacu para pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Para pengusaha ini membuka cabang perusahaan di negara lain dengan nama yang sama dengan induk perusahaan. Perusahan seperti ini disebut dengan Mutinational Corporation (MNC).

Akuntasi sebagai penyedia informasi bagi pengambil keputusan yang bersifat ekonomi juga dipengaruhi oleh lingkunagn bisnis yang bertumbuh bagus, dalam keadaan stagnasi maupun depresi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kondisi ekonomi, paham ekonommi yang dianut, serta perbedaan kondisi politik dan social di tiap negara. Adanya transaksi antar negara dan prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda antar negara mengakibatkan munculnya kebutuhan akan standar akuntansi yang berlaku secara internasional. Oleh karenanya muncul organisasi yang bernama IASB atau International Accounting Standar Board yang mengeluarkan International Finsncial Repport Standar (IFRS).

Dalam pembahasan ini studi kasusnya adalah PT Garuda Indonesia (Persero). Perusahaan ini berdiri pada saat perang kemerdekaan melawan Belanda pada tahun 1940-an. Pada saat itu masakapai ini dekenal dengan nama “Garuda Indonesian Airways”. Selama perjalanan perusahaan ini telah banyak mengalami kejadian dan situasi yang berbeda. Sehingga hal ini yang menyebabkan perusahaan ini menjadi kuat dan tetap berjaya hingga saat ini. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. Tujuan pendirian perusahan ini adalah untuk melaksanakan serta menunjang program Pemerintah di bidang ekonommi dan pembangunan nasional umumnya, khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan bidang lainnya yang berhubungan dengan jasa pengangkutan udara.

Hasil kerja departemen keuangan yang paling jelasa terlihat adalah dengan adanya laporan keuangan atau annual report yang dikeluarkan setiap tahun. Proses pembuatan annual report ini cukup panjang, dengan pengumpulan data dari cabang-cabang GA yang tersebar di dalam dan luar negeri. Karena GA merupakan perusahaan milik negara, saham serta modal pada GA merupakan milik pemerintah, sehingga Laporan Keuangan yang dibuat oleh GA dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada Menteri BUMN dan Menteri Keuangan. Pada awal tahun 2009, IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) mengeluarkan aturan tentang kewajiban perusahaan public untuk mengadopsi IFRS dengan alasan penyeragaman standar akuntansi agar laporan keuangan perusahaan public di Indonesia dapat dibandingkan dengan perusahaan asing. Tujuannya adalah untuk cross border listed atau operasi lintas negara sehingga ketika sebuah perusahaan telah mengadopsi IFRS, diharapkan perusahaan tersebut bisa melakukan dual listing yaitu menjual saham dibursa efek dalam negeri dan luar negeri serta melakukan aktivitas bisnis global (Satyo, 2005).

Alasan GA mengadopsi IFRS pada laporan keuangan masih dipertanyakan, hal ini merupakan paksaan dari pemerintah atau berdasarkan kehendak sendiri. Setelah dilakukan wawancara dengan beberapa karyawan GA diperoleh bahwa hal ini merupakan kehendak sendiri. Jadi pengadopsian IFRS pada GA merupakan inisiatif dari perusahaan dan bukan merupakan paksaan dari pemerintah. Alasan awal yang mendasari GA melakukan adopsi IFRS adalah karena tidak adanya ketentuan dalam PSAK yang mengatur tentang perlakuan akuntansi untuk jasa penerbangan, sehingga pihak GA merasa perlu menjadikan IFRS sebagai pedoman dalam pembuatan lapporan keuangan karena pada IFRS terdapat chapter yang mengatur tentang perlakuan akuntansi untuk jasa penerbangan. Dengan adanya chapter tersebut, GA merasa lebih mudah dalam pembuatan laporan keuangan karena ada pedoman yang jelas.

Alasan lain adopsi IFRS adalah karena globalisasi ekonomi dan tuntutan pasar. Dengan adanya globalisasi ekonomi, otomatis tidak ada batasan negara dan budaya lagi untuk memperluas sebuah bisnis. Karena hal itu adopsi IFRS pada laporan GA sangat diperlukan. Laporan keuangan yang telah mengadopsi IFRS dapat dijadikan alat untuk “menjual” perusahaan karena value added yang dimiliki laporan tersebut. Selain globalisasi, tuntutan pasar juga merupakan salah satu alasan adopsi IFRS di GA. Leasee yang memberikan pinjaman kepada GA sebagian besar berasal dari luar negeri, dengan adanya kenyataan seperti itu, penting bagi GA untuk mengadopsi IFRS agar para lease tersebut mampu menginterpresaikan laporan keuangan yang disajikan oleh GA dengan baik sehingga lease-leasee tersebut benar-benar paham bagaimana keadaan keuangan GA yang sebenarnya. Jadi, yang dimaksud dengan tuntutan pasar adalah tuntutan dari para lease GA.

Dari beberapa konsep adopsi IFRS, konsep yang digunakan GA dalam mengadopsi IFRS adalah konsep harmonisasi, dimana GA tetap menggunakan PSAK sebagai pedoman utama penyusunan laporan keuangan dan menggunakan IFRS sebagai pedoman alternatif apabila ada rules yang tidak diatur pada PSAK, terutama perlakuan akuntansi untuk jasa penerbangan. Item – item yang diadopsi langsung dari IFRS adalah transaksi dengan kriteria khusus dan unik serta merupakan extraordinary item. Selain menggunakan IFRS sebagai pedoman alternatif penyusunan laporan keuangan, GA juga menggunakan produk standar keuangan yang dikeluarkan oleh AICPA, Airlines AICPA Audit and Accounting Guidelines, sebagai salah satu referensi. Namun pada hakikatnya, IFRS merupakan sebuah pedoman penyusunan laporan keuangan yang cukup luas karena merupakan pengembangan standar yang berlaku secara global dimana semua rules akuntansi telah diatur dalam standar tersebut.

REFERENSI

  1. Halis, I. H Ozsabuncuoglu and A. Ozsagir. 2007. The Values of Entrepreneurship and Factors That Effect Entrepeneurshi: Findings from Anatolia. Serbian Journal of Managemern 2 (1) 21-34.

Ottoson, Erik., Weissenrieder, Frederik. 1996. Cash Value Added-a new method for measuring financial performance.

Shariff, Mohd Noor Mohd., Peou, Chea. 2008. The relationship of entrepreneurial values, firm financing and the management and growth performance of small-medium enterprises in Cambodia. Problem and perspectives in Managemen, Volume 6, Issues 4.

Susiana,. Herawaty, Arleen. 2007. Analisis Pengaruh Independesi, Mekanisme Corporate Governance, dan Kualitas Audit terhadap Integritas Laporan Keuangan. Trisakti School of Management.

Mafudi,. Putri, Negina Kencono. Analisis Laporan Keuangan International: Dampak dari Harmonisasi melalui IFRS. Universitas Jenderal Soedirman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s